Rabu, 06 Mei 2009

tajuk rencana

KOALISI KONSPIRASI PARA ELITE POLITIK


Partai politik bingung memilih mencari kecocokan visi dan misi mereka untuk mendapatkan keserasian dan kecocockan sehingga mantap untuk berkoalisi. Berbeda dengan Partai Demokrat contohnya. Partai ini memperoleh sudah 20% suara yang seandainya tidak berkoalisipun dapat mencalonkan ke pilpres nanti. Kemudian tinggal caleg-caleg yang lain yang sampai saat ini belum mencapai atau kurang dari 20% maka dia harus berkoalisi dengan partai politik lainnya.Yang menjadi masalah atau perdebatan dalam berkoalisi adalah bukan dalam mencari kesusaian visi dan misi yang selama ini digembor-gemborkan partai tersebut pertimbangan yang paling kesekian. Pertimbangan yang paling pokok dan sering muncul dalam permukaan adalah siapa yang jadi presiden dan siapa yang kemudian jadi wakil presidan sampai ke dataran yang lebih spesifik msal seperti mendapat jumlah menteri berapa. Soal kekuasan inilah yang menjadi bahan pertimbangan partai – partai melakukan koalisi jarang sekali kemudian apakah pertimbangan tentang problem -problem kemasyarakatan dan problem- problem kebangsaan ini menjadi pertimbangan. Bagi mereka yang berkoalisi jangan –jangan partai politik cuman bagi-bagi kekuasaan jadi jarang sekali mereka membahas tentang kepentingan masyarakat dan permasalahan kebangsaan ini. Jadi ketika kita bicara tentang koalisi partai politi ini kita harus sadar bahwa sebenarnya koalisi adalah obrolan kekuasaan para elite politik tertentu. Coba bayangkan apabila masyarakat di ikutkan untuk mamilih atau manentukan koailisi. Koalisi yang bisa dilakukan untuk saat ini adalah kembali kepada masyarakat untuk lebih jeli memilih presiden dan wakil presiden jangan terpengaruh tentang perdebatan di media massa yang sekarang ini para partai politik bergonta –ganti koalisi sehingga membingungkan.Yang mesti ditekankan adalah masyarakat jangan sampai salah manggunakan haknya memilih siapa yang akan menjadi calon presiden dan wakil presiden yang mempunyai figur dan dapat membawa perubahan bangsa ini.

Muhammad Aziiz /153070198

Tidak ada komentar:

Posting Komentar