Rabu, 29 April 2009

Menjadi Pengemis Bukan Pilihan Saya!

Keterbatasan fisiknya tidak dijadikan penghalang untuk bertahan hidup. Alunan melodi angklung adalah sahabatnya untuk bertahan.

Walau hanya dengan penghasilan 25 sampai 30 ribu sehari tidak membuat Slamet sedih. Pria asli Kulonprogo ini sudah 6 tahun menggeluti profesi sebagai pengamen angklung di emperan depan hotel mutiara. Sebelum menjadi pengamen angklung, Pak Slamet pernah mencoba untuk berdagang, tetapi " rugi terus, habis banyak yang ngutang." ujarnya.
Dalam setiap aksi ngamennya bapak 3 orang anak ini selalu memainkan musik campur sari atau musik-musik daerah dan tidak pernah memainkan musik zaman sekarang. Menurutnya musik zaman sekarang bukan musik yang enak untuk didengar.

Cacat permanen yang sudah dirasakannya sejak kecil ini tidak membuatnya patah semangat. Menurutnya cacat bukan berarti menjadi pengemis. Walau ia hanya bisa mengamen setidaknya rezeki yang dihasilkannya bukan dari menengadahkan tangan. Saat ditanya apakah sedih dengan kondisinya yang seperti ini " ya pasti sedih mbak, tapi kalau saya sedih terus keluarga saya gimana hidupnya?? Sedih bukan berarti saya menjadi tidak semangat to??" jawabnya penuh semangat. Di hampir setengah abad usianya Slamet harus tetap bekerja demi anak dan istri tercinta, merekalah sumber kekuatan beliau.


Suci Priharsari - 153070298

berita feature

BERJUALAN ROKOK HANYA UNTUK ANAK ISTRI

Semangat pantang menyerah, mungkin kata-kata itu cocok untuk Suroto yang menjajakan rokok demi menghidupi anak dan istrinya.
Suroto (37), bapak dari dua anak ini salah satu pendual rokok di jalan Malioboro. Suroto berasal dari Solo. Dia memilih berjualan di Jogja karena menurutnya di Jogja keuntungan yang dia dapatkan lebih banyak sehingga cukup untuk menghidupi 2 anaknya yang saat ini masih sekolah TK dan SD.
Awalnya, suroto bingung mencari bidang usaha yang ia tekuni. Pilihannya pun jatuh pada rokok, karena saat itu ia menerima ajakan temannya yang sudah lebih lama menggeluti di bidang tersebut. Walaupun penghasilan yang ia dapatkan dari menjual rokok tidak terlalu banyak ia yakin dapat menghidupi anak dan istrinya yang menanti.
Suroto mulai bekerja sejak pukul 09.00 s/d sore pulul 16.00 ia memperoleh penghasilan sebanyak Rp. 25.000,- akan tetapi kadang ia berjualan sampai malam, keuntungan yang ia dapatkan bila berjualan sampai malam bisa mencapai Rp. 50.000,-. Suroto harus pintar-pintar membagi penghasilan, saat ditanya apakah uang segitu cukup pak ? ya besar pasak dari pada tiang katanya sambil membasuh mukanyanya yang kusam” Dia juga mengatakan bahwa ia harus pintar-pintar membagi uang karena ia harus menanggung uang makannya sehari-hari, terus biaya untuk kos yang harus ia bayarkan sebanyak Rp. 120.000,- per bulan, belum untuk pulang ke kampung halaman dan memberi nafkah kepada anak istrinya. Mujiono juga salah satu teman sehabitat berjualan rokok suroto menurutnya suroto orangnya baik. Dia mengaku bahwa hubungan mereka sesame penjual rokok sangat terjaga “ Ya sama-sama rekann kerja kalau ada apa-apa ya di Bantu, ujar Mujiono dengan senyum simpulnya. Suroto mengaku sangat senang berjualan di Malioboro sangat senang selain orangnya ramah-ramah dia juga menemukan pengalaman yang berwarna-warni dan walaupun tidak di kampungnya sendiri ia dapat bermasyarakat dengan baik, sehiingga ia tetap semangat mencari nafkah demi menghidupi anak istrinya.

Muhammad Aziiz/153070.198

Berita Feature


Sumiati, Kartini bagi Keluarga

Gerobak Sumiati di kawasan Malioboro, pasar Beringharjo bisa dikatakan sederhana. sudah 30 th dia menggeluti profesi sebagai pedagang cemilan khas Djogja dan kelelawar bacem.

Mungkin beberapa orang tidak tahu khasiat kelelawar bacem yang bisa digunakan untuk obat asma dan gatal-gatal. Hanya di gerobak Sumiati (67) yang menjual kelelawawar bacem untuk dijadikan obat. Dia tampak tua dan keriput wajahnya, ada sebongkah luka yang berada di dekat telinga nenek tua tersebut. nenek berambut putih itu berjuang sendiri untuk menghidupi keluarganya semenjak suami yang menjadi tumpuan hidup telah tiada. Dia mengaku berjualan kelelawar bacem untuk menolong orang-orang yang menderita penyakit asma dan gatal-gatal dikulit. jika hujan datang Sumiati tidak dapat berjualan dan jika hari sudah petang dia membawa dagangannya sendiri. " Menawi jawah, kulo mboten saged dodol,boyoke kulo pun sakit menawi mbeto kulakan " ujar nenek berusia 67th ini. Dia mengaku sudah terlalu tua untuk bekerja seberat ini tetapi siapa lagi yang akan menafkahinya. Dia tetap kuat dan sabar dalam menjalani hidup. Sumiati mengaku senang berjualan di kawasan Malioboro karena dapat melihat orang-orang bule lalu lalang di depannya. Sumiati berjuang untuk keluarga dan dirinya serta menjadi Kartini bagi keluarga.


EVANITA ARI S
153070306